Cat Videos, Kitten Videos

  Watch the cat video - Masjid Jogokariyan, gempa Bantul Yogyakarta

Cat Videos, Kitten Videos - Masjid Jogokariyan, gempa Bantul Yogyakarta

Search Cat Videos:



cat cats kitten kittens feline felines funny cats funny kittens funny felines funny cat videos funny kitten videos


Masjid Jogokariyan, gempa Bantul Yogyakarta

Masjid Jogokariyan, gempa Bantul Yogyakarta
Cat Videos, Kitten Videos Cat Videos, Kitten Videos
Masjid Jogokariyan, gempa Bantul Yogyakarta

Dear all. Segala puji hanya bagi Allah SWT. Malam tadi listrik baru nyala, jadi hari ini saya buka email. Kami sekeluarga selamat setelah melalui cobaan yang sangat berat. Walaupun tidak mudah untuk melupakan peristiwa dahsyat tersebut namun sedikit demi sedikit rasa takut mulai sirna. Hati semakin tentram karena malam tadi, hari ketiga pasca gempa, listrik mulai hidup dan kami mulai melihat dunia luar lewat jendela televisi. Siaran radio yang sejak gempa tidak ada musik kecuali informasi dari BMG dan komunikasi dari para korban gempa, kini sudah mulai diselingi dengan lagu dan iklan. Waktu itu, 27 May 2006, kira-kira pukul 05.54 WIB, saya dan istri sedang masak di dapur. Tiba-tiba tanah bergeser sehingga air yang baru saya taroh di atas kompor mental. Spontan, istri saya tarik keluar sambil teriak: "Gunung Merapi meletus, keluar semua!". Kedua anak saya langsung lompat keluar dari kamarnya masing-masing, sementara anak ketiga saya, berusia 6 tahun, masih tidur di kamar yang paling jauh dari pintu dapur. Sambil mematikan kompor, dalam keadaan bumi masih bergetar, saya coba jemput dia lewat pintu penghubung antara dapur dan ruang utama. Sayang, handle pintu tiba-tiba putus. Alhamdulillah istri masuk lewat pintu tengah dan menggendong keluar anak saya yang masih tidur tersebut. Di luar rumah kami tidak bisa bergerak ke manapun, seakan kaki ini lengket dengan tanah. Halaman depan tempat tinggal saya jadi dapur umum. Sementara itu Masjid Jogokariyan seketika berubah menjadi rumah sakit darurat dan dipenuhi oleh pasien yang berdatangan terus menerus dari berbagai kampung tetangga di sebelah selatan yang keadaannya lebih parah. Di bawah pimpinan bapak RW saya bekerjasama dengan dosen salah satu universitas di Bengkulu, mengerahkan para mahasiswanya yang sedang rekreasi ke Jogja dan menginap di sebuah hotel di kampung kami, untuk membantu para korban gempa di wilayah RT kami sebisanya. Hari terasa sangat pendek, tahu-tahu matahari sudah tenggelam. Saya yakin, hampir tidak ada yang sempat mandi dan buang air kecil maupun besar pada hari itu. Saya sendiri tidak merasa lapar melainkan mual dan ingin muntah, tapi saya tahan. Dari jam ke jam otak saya terasa semakin mendidih disertai perasaan was-was yang sangat tinggi. Dengan penerangan obor dan lilin, kami, beberapa keluarga bertetangga, tidur di halaman yang agak luas sambil merasakan gempa-gempa susulan yang sangat mencemaskan. Tidak adanya informasi yang jelas mengenai apa yang sedang terjadi akibat listrik mati membuat kami semakin cemas. Waktu itu ada kabar dari mulut ke mulut bahwa jam 10.30 malam nanti akan ada gempa susulan yang besar. Jadi, menjelang jam tersebut kami semua bersiap-siap untuk angkat kaki. Selepas tengah malam tidak ada yang bisa tidur hingga fajar menyingsing kembali. Keesokan harinya hampir semua kaum wanita dan anak-anak kena trauma yang berat, anak saya yang paling kecil sering merasa takut. Selama dua hari pasca gempa, kedatangan malam selalu disertai hujan lebat dan angin yang agak besar sehingga menambah panik warga. Saat itulah terasa bagi saya betapa beratnya beban mental para pengungsi di wilayah selatan (Bantul) yang keadaannya jauh lebih parah, tanpa makanan, tenda dan penerangan. Rasanya tidak ada perbedaan antara satu hari dengan hari yang lain. Sabtu, Minggu dan Senin sama saja. Sewaktu-waktu beberapa helikopter beterbangan di atas dan bunyi sirine kendaraan ambulance meraung-raung. Bahkan tadi pagi, setelah salat subuh di mesjid, kami masih menyalatkan salah satu warga yang baru saja meninggal dunia. Selama ini orang Jogja "menikmati" keindahan pemandangan Merapi yang sedang flu dari kejauhan serta berpikiran bahwa bahaya Merapi gak bakalan sampai ke kota Jogja. Tiba-tiba, bencana lain datang dari arah yang tidak diduga-duga sama sekali, Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun. ANDRE INDRAWAN ( gitarnya) baik-baik saja.

Channel: People & Blogs
Uploaded: November 30, 1999 at 12:00 am
Author: wanawotvideo

Length: 06:31
Rating: 3.33
Views: 4027

Tags: Bantul  Earthquake  Gempa  Indonesia  Jogjakarta  Jogokariyan  Masjid  Yogyakarta  

Video Url:


Embed Code:


Add To StumbleUpon   Add To del.icio.us   Add To Digg   Add To Furl    Add To Reddit

Safe Cat Food Business Opportunity